English post

[So Called] Month of Love

12:23 AM

Hello there February!


Tadinya gue mau langsung nulis review film, tapi kayaknya kok ya ga enak. Udah ganti bulan, trus gue tanpa basa-basi langsung review. Ya ga masalah juga sih, blog juga blog gue ini lol.
But anyway, I decided not to, and, have a little 'opening' post in the new month.

Sebelumnya, maafkan gue karena gue ga ngepost apa-apa lagi selain 2 post di bawah selama buluan Januari, dimana tragisnya adalah, gue janji bakal lebih sering nulis di post-an sebelum ini. And look what happened to that promise *deep sigh*

Anyway, this is going to be a quick update for whatever happened the whole month, in January.

Okay, jadi, pertama adalah, kini gue sudah pengangguran. It's been a week, actually. Dan, believe it or not, badan gue masih terbiasa bangun jam 7, hingga akhirnya, BARU TADI PAGI, gue tidur jam 7 kurang di pagi hari, dan bangun jam 10an. Butuh seminggu supaya badan gue bisa balik ke masa-masa kejayaannya menjadi kalong panutan bangsa abad ini. I still can't believe it. Need to train it more, I guess.

Anyway, pengangguran sih sebenernya gak bener-bener pengangguran. Well, I really have no - I mean, literally NO - plan, like, what will happen next, to be honest. Might as well just enjoying this "free time" for a while. But, since we really really have no plan, we stumble from here to there, and cannot make any plan at all, regarding job, event, next thing to do, career path, life, jodoh, and so on.

Well, let me tell you the story. As you probably knew, or maybe you don't, gue berhenti kerja selain karena kontrak gue udah berakhir untuk 3 bulan, juga karena rencana jadi dosen yang sudah digaungkan sejak tahun lalu, which is why we asked for 3 months period only instead of 6 months offer from our last office. Anyway, those plan probably stand still, but the story got twisted. Jadi, yang awalnya bakal jadi dosen di Jakarta aja, tiba-tiba agak bergeser dengan kemungkinan jadi dosen di universitas negeri di Medan, and that means, yes, tinggal di Medan.
Balik ke Medan.
Hidup di Medan.

That. Was. Never. Crossed. My. Mind. Anymore.

I don't know. I enjoy spending my holiday in Medan, but live my life there - tho Dad said it just for 2 or 3 years maximum - sounds, idk, unreal? I mean, sure I knew the place, like I spent 18 years of my entire life living there. And, tho I left Medan for like almost 8 years now, I came back once or twice and I still can catch up with some improvement.

And again, living my life there seems unreal.

There's a lot of things to be considered. Besides, I enjoy being here, the big city with all the problem and shit. Cannot imagine myself need to adapting again with all those things. I just, cannot.
First, I cannot make any event anymore, and that's kind of important. No, that's not really the first and biggest problem, I just write down what's in my mind.
Second, live in my house again - which is quite pinggiran - will probably a problem, and need effort, and kinda annoys me. From my house to the city, it will take around 1,5 to 2 hours on the road. And not like in Jakarta, which is actually close - but makes it long and far cause of the traffic -, in Medan, it is actually "that far", no kidding. And if we add traffic to it, then damn man! The real "tua tua di jalan" will work.
Third, I don't think I will have my life here, in Medan. Connection to TV and radio, networking that I've been working on these whole time, all those free concert invitation when I'm lucky, my friends here, people I usually hangout and chat with, and all those thing, will not be there for me in Medan. I mean, sure I still can get in touch with them via all those social media, but I mean, it will feel different. Way too different.
Forth, I still root for Justin's fcking world tour here. If I live in Medan, I will need extra money to buy plane ticket to Jakarta. And even if I want to watch in Singapore, tho the plane ticket is cheaper, but I will watch alone, like I mean, no crew, no friend, no one I know, alone. CAN YOU IMAGINE.

Yeah right, those list shows how egoist I am, how subjective it is, and well, how non mature I act. But I mean, seriously, I just cannot.
Those are not all the reasons, but still tho, at least you get the picture.

And anyway, since there still a lot of 'needs' and 'will' here that should be considered, there's a plan of me going to Medan, at least to think about it, for a month or two. And then, that's the problem. Cause there is nothing that can assure me what should I do, I cannot make any plan, for myself, or for other people.

Errggghh, now I rant way too much. I was just going to post review of another Pinoy movie at the first time actually.

Let just left it there then. I already watched like 7 Pinoy movie since New Year, and the only post about review is the last one, and 2 movies in 1 post. I should really post more review, for real.

Anyway, on a side note, did you guys watch the trailer of Me Before You, from the book with same title by Jojo Moyes? I def cannot wait to watch it, and didn't finish the book yet. But seriously, I will not miss it for the world.

Might as well put the trailer, so here you go.


Well, that's gonna be the thing related to Month Of Love, I guess. I don't even know why I put that as the title, and relate it with this movie. I mean, the movie is going to be released on around June this year.
Fine, just the word Love, that's the silver line.

I think I need my red wine.


February 6th, 00.22
Cheers !

RAP

family

Desember

5:01 PM


Halo December!
Gue ngelanggar janji gue di post sebelumnya untuk nulis lebih banyak biar post an gue ga jomblo cuma berdua dan akhirnya beneran berdua. Astaga, post-an gue aja bisa berdua, lah gue sendirian terus.
APAAN SIH?

Gak penting amat sih bik baperan gitu? Yah, untuk menepati janji gue yang tertunda selama sebulan lebih, gue bakal nulis review kok abis ini, tenang aja. Bukan baru nonton sih, eh ada juga sih yang baru nonton, tapi ada juga film yang udah lama nontonnya, tapi baru sadar belum bikin review nya. Atau udah di tumblr ya? Bisa jadi, nanti gue cek dulu.

Anyway, back to the topic. Baper DECEMBER. Jadi, ini udah bulan Desember, dan artinya udah mau Natalan aja. Yang juga artinya, 2014 udah mau abis. Gak kerasa banget ya :"


Sekarang udah tanggal 7 Desember, dan besok udah masuk minggu kedua di bulan Desember ini. Dan rasanya, gue udah lama banget gak Natalan di Medan, ya semenjak yang gue kuliah lah, 2008. Kalo diitung sampe sekarang, dari 2008 sampe 2014, berarti udah 6 tahun, 6 kali Natalan, gue gak di Medan. Dan ngapain aja gue sampe 6 kali kagak libur Natal di Medan? KU.LI.AH.
Lulus S1 4 tahun, means 4 tahun juga gue gak pulang pas Natal. Pas wisuda 2012, yang adalah bulan Agustus, kenapa Desembernya gak pulang? Yah mungkin karna tiap Natal juga biasanya nyokap sama Dipo yang kesini, gak pernah gue yang pulang. Ya walaupun Desember 2012 kemaren nyokap gak ke Jakarta karna doi ke Jakartanya Februari 2013 buat wisudaan adek gue, yang gue gak dateng karna event yang berakhir dengan gue justru rugi dan basah ujan-ujanan dan masih kena semprot anggota keluarga ditambah adek gue ngambek.
Pretty much ruined sih kala itu.
Anyway, untungnya gue ke Medan awal tahun, Januari sampe Februari 2014 gue di Medan walaupun beneran cuma bentar gitu, dan bokap nyuruh balik ke Jakarta karna mau masuk jadwal kuliah, padahal mah ternyata diundur masuknya 2 minggu kemudian *sigh*

Emang, apa sih pentingnya Natalan di Medan?
Well, sebenernya bukan masalah penting gak penting sih. Gue udah 6 tahun Natalan di kota orang, dan kalo di kota orang, ya Natalan ya cuma pas hari H nya aja, atau ya mentok mentok 1 atau 2 hari sebelum 25 Desember gitu, yang perayaan Natal gitu.
Sementara di Medan?
Jadi ya, di Medan itu, nyokap gue cukup aktif di gereja. Doi itu ngurusin Moria (persekutuan wanita dan ibu ibu), trus ikutan paduan suara, ikut repot, berapa kali nyanyi di Natal atau paskah, berapa kali juga jadi ketua, atau wakil ketua, atau sekretaris, atau bendahara Natal atau paskah atau acara gereja lain gitu. Di Simalingkar, tanya aja Nande Ribka di GBKP, doi terkenal.
Sayangnya anaknya enggak hahaha. Orang mah kalo ketemu ibu-ibu kan pasti "oh ini mamanya si ini" gitu kan ya, berarti anaknya terkenal kan? Lah gue, kalo di gereja, pasti "Oh ini yang namanya Ribka, anaknya Nande Ribka," gitu masa, berarti pemes an nyokap kan?
Ah sudahlah, biarkan nyokap gue dan pamornya di Simalingkar :p

Anyway, karna emak gue udah keburu punya nama, jadi ya mau gak mau gue nya dikenal juga, gitu gitu aja sih. Jadi di GBKP Simalingkar itu dulunya ada 12 sektor, pas gue pergi dari Medan jadi 17 apa 18 sektor, sekarang gue gatau deh ah. Awal awal, daerah gue sektor 4, trus jadi sektor 15, dan kayaknya belum berubah sih sampe sekarang. Ya pokoknya gitu, se gereja aja emak gue pemes, apalagi cuma sesektor yekan?
Jadi dari kecil gue emang diajarin harus selalu sekolah minggu, dan harus selalu kasih persembahan, walaupun ga ada uang jajan. Uang jajan bisa diminta lagi nanti sama mamak pas pulang, tapi kalo gak ngasi kolekte, nanti gak dikasi berkat lagi sama Tuhan. Ya pokoknya gitu gitu lah konsep anak bocah, gimana sih :p Nah, pas udah jadi anak tanggung, gue yang emang agak malas sosialisasi, daripada mesti ke gereja pusat buat anak tanggung dan anak remaja, gue malah milih tetep di gereja anak-anak, modusnya sih bantuin guru gereja anak-anak gitu kan, padahal gue cuma numpang tepung tangan, sama main sama bocah, soalnya banyak juga anak balita gitu udah dianterin gereja.
Nah, pada akhirnya, yaudah gue fokus di sektor aja daripada gereja pusat kan, jadi gue bantuin deh guru gereja anak-anak itu. Dari bantuin bawa nyanyi, sampe akhirnya gue mau mau aja kalo disuruh isi acara Natal gitu, dari paduan suara, nari biasa sampe yang landek Karo, hingga pada akhirnya, gue yang ngajarin itu anak-anak.
Kayaknya kalo gue gak ke Bandung buat kuliah, jabatan guru gereja bakal pindah ke gue, dan sekolah minggu anak-anak dilaksanain di rumah gue, soalnya guru gereja yang sebelumnya itu nikah dan udah gabisa ngajar sekolah minggu.

DAN ITU DIA YANG GUE KANGENIN!
Natalan itu ya identik sama repot, biasanya mulai dari bulan oktober. Dari mulai nyari lagu, ngajarin gerakannya sama anak-anak lucuk itu, latian 2 kali seminggu di rumah siapa gitu gantian, sampe pas perform nya dan ngurusin kostum serta atribut. Belum lagi kalo di Medan, dengan yah sektor aja ada 18 gitu kan, Natal sektor sendiri udah mesti ikut, ikut hadir dan ikut repot. Belum undangan sektor sini sektor sana, makan gratisnya dan segala macemnya.
Ditambah nyokap gue pas kemaren nelpon bilang kalo dia sore mau ke acara Natalan sektor mana gitu. Dari bulan November kalo gue nelpon nyokap, pasti dia sore itu latian koor di rumah bibi ini atau nande ini. Disini? Ya gue Natalan 2 kali kebaktian aja sama bokap sama adek gue, malam Natal sama hari Natalnya, udah.



Selain itu juga, hal yang gue kangenin adalah masang pohon Natal. Pohon Natal rumah gue gak sebanyak itu sih riasannya, dan def not that good, walaupun pohon Natal di rumah gue letaknya juga di ruang tamu dan deket pintu. Tapi, sejak gue di Bandung, adek gue di UI dan adek gue lainnya di Stella Duce Jogja, or by 2009 to be exact, nyokap tinggal berdua doang sama Dipo, dan from what I heard, mereka udah ga pernah masang pohon Natal lagi bahkan, karna biasanya tanggal 20 an udah ke Jakarta. Last time banget 2009 kayaknya mereka pasang pohon Natal di rumah, since 2010, it never happen anymore I guess, ya mungkin kecuali yang di tahun 2012 itu pas mereka gak ke Jakarta buat Natalan.


And another thing is miss, adalah bikin kueeeeee :( yaampun, mulai dari bantuin nyokap mecahin telur, giling giling adonan pake gelas, naro cetakan bentuk love atau kotak atau bulat buat kue, manggang, naro selai nanas di kue, press the choco chip cake with fork, put the chocochips on the top of the cake and eat more that the one being put, and even put it into the oven, wait for it and take it out, dan bahkan pelan pelan masukin ke toples biar bisa bagus polanya ke atas dan ga tumpahan.
ASTAGAAAAA, KANGEN BANGET!

Nyokap ga suka beli beli kue dari dulu. Toh anak ceweknya ada 3, masa gak dimanfaatkan buat ngurus begituan. Dari gue bocah sih, dari gue masih SD, kerjaan kita selalu duduk manis di belakang nungguin nyokap beres ngaduk aduk adonan pake tangan sendiri gitu sampe ngembang, sebelum ngoper ke kita buat giling giling adonan. Dan biasanya selalu keliatan mana buatan kita mana buatan nyokap. Buatan nyokap bagus cantik sempurna, buatan kita ya kalo gak kegepengan, kegendutan, atau bopeng bopeng dari cetakan.

AND NOW I MISS BEING HOME FOR CHRISTMAS EVEN MORE.

I should just end this post tho, dan fokus buat nulis another post. Hope you have delight December there, folks


-xox
@ribkadel

family

Asal Usul Purba Karo

6:45 AM

Jadi ini jam 6 pagi, dan benar sekali, gue belum tidur sepanjang malam. Gue udah download beberapa film Eropa, tapi belum ada yang gue tonton jadi gue belum bikin review. Gue pengen banget nulis blog, sampe tadinya saking randomnya gue mau nulis #20factsaboutme yang lagi rame di instagram karna gue udah di tag sampe 4 orang di IG tapi gue pikir kalo tulis di IG gak puas dan gue mau bikin disini.
Tapi gue males. *insert emot gak kaget disini*

Anyway, jadi kan gue sepanjang malam super random gak ngapa-ngapain yang berarti, trus jam setengah 5 gue pengen nulis, tapi gue kan udah stuck banget sama naskah gue, jadi gue nulis ulang naskah yang kemaren udah sampe 30an halaman di laptop ini, tapi belum gue pindah ke hard disc external dan hard drive laptop rusak dan belum gue back up. Intinya, naskahnya ilang. Jadi gue tulis lagi aja, mumpung udah di kepala juga.
Nah, jadi kan gue bikin ceritanya soal ada lah unsur budaya Karo nya gitu kan, gak banyak sih, cuma masalah di marga gitu deh. Tapi trus gue bingung, itu marga berdua bisa jadi gak ya? Ntar gue jago-jagoan pula, ternyata eh ternyata gabisa karna marga, kan ga lucu buku gue di banned di kemudian hari --"

Jadilah gue malah riset kecil soal marga di budaya Karo, atau yang dikenal sebagai Merga Silima. Trus setelah menemukan apa yang gue cari - dan ternyata 2 marga yang gue pake itu bisa, yang berarti gue ga bego bego amat soal marga dan adat dan segala macemnya -, gue malah kepo sendiri sama marga yang gue sandang.
Purba Karo.

Dulu sih gue pernah baca bukunya gitu, buku cerita rakyat Indonesia edisi Sumatera Utara gitu, dulu ada tuh jaman gue SD di rumah, gue inget pernah gue tunjukin ke bokap, trus bokap sambil tidur tiduran di kamarnya, malah jadi baca itu.
Lah dia gatau sejarah marganya sendiri apa gimana? HAHHAHA peace Pak :p
Anyway, ternyata abis gue research, ceritanya ada yang lebih lengkap. Trus gue pikir, gue gak pernah post sesuatu yang berhubungan sama diri gue gitu kayaknya, i mean yang kayak budaya gitu gitu. Jadi yaudah, gue putuskan gue tulis aja ceritanya disini hehehe

For your information dulu sih, ini kan cerita legenda gitu ya, jadi maklumin aja kalo ada kejadian aneh bin ajaib ala ala film naga indos*ar. Ya namanya juga cerita lisan jaman dulu :p

---
Jadi ceritanya, marga Purba Karo itu berasal dari Purba Simalungun. Suatu hari Raja Purba di Simalungun sakit terus-terusan, dan ada dugaan itu disebabkan oleh kebahagiaan yang direnggut (jrit, dangdut amat bahasa gue) karena kelahiran putra bungsunya, yang dianggap membawa sial. Akhirnya, dari kerajaan memanggil seorang dukun sakti untuk mencari obat dan mengatasi kesedihan. Si dukun datang, dan dimulailah upacara Kang Dukun, yang kemudian mengatakan kalau memang kelahiran putra bungsu Raja Purba memang penyebab sial dn malapetaka. Jadi si anak bungsu itu diminta untuk disingkirkan atau dibuang jauh-jauh dari keluarga.
Karena tak tahan lagi akan semua kesedihan yang ada (cih, lagi lagi bahasa gue), akhirnya raja setuju anaknya diasingkan. Si dukun sakti aka Guru Pakpak Pitu Sedalanen dipercaya untuk membawanya pergi, waktu itu umur si anak masih sekitar 13 tahun, jaman lagi cabe-cabenya kalau sekarang. Oh iya, cowok, berarti lagi terong-terongnya.
Anyway, mereka jalan jauh banget dari daerah Simalungun, sampai ke Gunung Barus ke arah Matahari terbenam. Si putra bungsu menjadi sangat sedih hati karena dibuang oleh keluarga dan saudaranya. Sampai di tempat tujuan, sang dukung mendirikan sebuah gubuk untuk tempat tinggal si bungsu. Lalu, sang dukung berniat untuk pulang, setelah semua selesai.

Maka dimulailah drama tangis bombay. No, ini serius. Sang anak yang kalut dan sedih, kemudian menangis dan meratap ke sang dukun agar tidak ditinggalkan sendirian. Ya tau lah kan gimana tampang anak kecil kalo nangis? Gak dikasi permen aja mukanya beneran kasian banget gitu, apalagi mau ditinggal sendirian. Ya walaupun udah umur 13 tahun dan lagi terong terongnya, ya pokoknya karna nangisnya udah involved sesak napas dan keterpurukan yang mendalam, si dukun mau gak mau kasian juga. Dielus-elus pala itu anak dengan kasih, biar dia bobok siang. Gak berhasil.
Akhirnya si dukun yang kasihan itu memberi nasehat agar si anak jaga diri baik-baik, dan tidak boleh kembali ke Simalungun karena dia sudah tidak dianggap. Seperti halnya pacar cadangan di malam minggu. Tidak dianggap.

Si dukun kemudian memberikan pedang dan pisau agar si anak latihan untuk menjaga diri. Dia juga meninggalkan makanan yang konon katanya cukup untuk 7 tahun. 7 hari aja makanan gue pada basi --" Oh iya, selain itu, sang dukun juga kemudian mengurung gubuk tersebut dengan bambu kuning berduri yang rapat-rapat, agar si putra bungsu tidak kabur atau kembali ke Simalungun. Juga untuk melindunginya dari binatang buas. And anyway, itu tempat sekarang masih ada coy! Dinamakan buluh duri, dan dihiasi 7 mata air benik di Lau Gendek, Berastagi, yang sampe sekarang katanya masih keramat.

Lalu akhirnya sang dukung pergi, pulang kembali ke kerajaan, sementara si putra bungsu ditinggalkan disana. Selama 7 tahun dia hidup di gubuk, sampai akhirnya makanannya sudah hampir habis. Dia juga belajar menggunakan pisau dan pedangnya, dan mungkin gubuknya cukup luas buat dia belajar push up dan olahraga, soalnya kabarnya, pas dia keluar dari gubuk, doi jadi pemburu yang gagah, dewasa dan kekar, serta berparas rupawan. Dia juga pintar mencari binatang buruan.
Okay, dia mulai terdengar sebagai cowok-cowok kece yang super hot dan yummie di novel-novel chicklit.
Atau mungkin, male version of Katniss Everdeen.

Anyway, si putra bungsu hidup seperti itu selama beberapa tahun, sampai pada suatu hari, sewaktu hendak berburu, dia melihat seekor burung cantik dengan bulu warna warni, yang selalu berhasil mengelak dari panah si putra bungsu.. Karena penasaran, si putra bungsu terus mengikutin sampai ke Gunung Singkut, dan tanpa diduga-duga, tiba-tiba matanya melihat sesosok tubuh wanita cantik yang sedang duduk sambil mengeringkan rambutnya di dekat sebuah mata air yang jernih dan bening.
Yak, seperti iklan shampoo di tipi tipi ya?

Sang wanita kemudian menanyakan tujuan si putra bungsu, sambil tersenyum manis. Putra bungsu hanya melongo tak mampu menjawab, membuat si wanita kembali bertanya. Kali ini menanyakan mengapa dia diam saja.
"Oh... oh, tidak. Aku hanya terkejut melihat adanya wanita sendirian di tengah hutan lebat begini,"
Si putra bungsu, sejak saat ini kita panggil sebagai Purba Mergana, kemudian mendekat dan mulai bercakap-cakap dengan manusia pertama yang ditemuinya sejak tujuh tahun lebih berada di pembuangan. Dia menceritakan soal masa lalunya dan bagaimana dia bisa ada di gunung tersebut. Wanita tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tergugah hatinya. Saking asiknya bercerita, mereka tidak sadar hari sudah siang dan perut mulai lapar.

Sang wanita mengajak Purba Merganan mampir untuk malam, dan Purba Mergana tidak keberatan. Mereka masuk ke sebuah gua yang cukup bersih, dan terkejutlah Purba Mergana karena di dalam gua terdapat seekor ular besar tetapi pendek yang melingkar, sementara di dekatnya di atas batu, bertengger burung yang tadi dikejar oleh Purba Mergana. Walaupun heran, Purba Mergana tetap masuk dan duduk di atas tikar, lalu mulai makan buah-buahan, sementara sang wanita yang diyakini bidadari itu bercerita bahwa ular itu adalah ibunya, sementara sang burung adalah ayahnya, yang memang sengaja memancing Purba Mergana untuk datang ke Gunung Singkut untuk merencanakan perjodohan antara Purba Mergana dengan sang bidadari cantik jelita. Maka mereka menjadi suami-istri.

Orang tua sang bidadari menyarankan mereka hidup bersama manusia lainnya, dan menempuh cara hidup manusia, yaitu tidak terpencil dan mengasingkat diri di Gunung Singkut maupun Buluh Duri tepat Purba Mergana. Setelah memberi petuah, pergi lah mereka berdua sampai ke sebelah barat daya kampung Kaban yang dihuni merga Kaban dan Ketaren. Purba Mergana kemudian meminta izin mendirikan rumah di kampung tersebut.
"Kalau anda mau menjadi warga kampung ini, kami terima dengan baik. Bangunlah barung kalian ke arah Kenjahe (maksudnya bangunlah rumah ke arah hilir dari kampung tersebut)"
Sejak saat itu, berdirilah gubuk mereka yaitu kampung Kaban arah Jahe yang kini dikenal dengan Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Which is kampung bokap ane.

Selama menetap di Kabanjahe, mereka dianugerahi 6 orang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan, sehingga diberi julukan Purba Si Enem alias Purba yang ada enam. Dan kepada keturunannya itu, diingatkan pantang membunuh ular, sehingga sampai sekarang Merga Purba di Tanah Karo sangat dipantangkan untuk memukul atau membunuh ular. Selain itu, para wanita yang beru Purba juga terlahir cantik-cantik, karena mereka keturunan dari bidadari. Sorry, semua yang memungkinkan, bold, underline, italic, harus digunakan. Udah keturunan, dan udah takdir gue ternyata.

Anyway, lama-lama barung tersebut berubah menjadi perkampungan sendiri milik keturunan Purba Mergana, yang kemudian diberi nama KABANJAHE. Para keturunan Purba mengembangkan barung-barung lain sesuai nama mereka masing-masing, yaitu Katepul, Samura, Ketaren, Berhala, Sumbul, Kaban, Raya, Berastagi, Lau Gumba, Peceren, Daulu dan Ujung Aji, serta menyebar ke seluruh penjuru Karo.

Demikian lah sejarah dari Beru Purba yang gue emban ini. Kalau mau baca versi lengkap dan gak ada komentar gak penting ala gue, bisa klik disini.
 Sulit memang kalau udah ditakdirkan cantik keturunan bidadari :p Anyway, soal ular, gue jadi inget cerita kakak sepupu gue soal Biring gue, nyokapnya bokap. Dulu, kalau mereka ke ladang, dan ada ular, biring gak pernah takut sama sekali. Tapi dia juga ga bunuh ular. Bahkan kakak sepupu gue yang lain bilang, dulu mereka kalo ke ladang dan ada ular yang lewat gitu, mereka ya jalan aja gitu biasa. Walaupun gak marga atau beru purba, tapi kan mereka cucu Bulang Purba, dan biring nikah sama Bulang Purba.
Gue sih gak kebayang kalo gue yak, liat uler di tipi aja merinding, gimana papasan di ladang -____-"
Oh iya, kakak sepupu gue juga bilang, dulu Biring gue isengnya gak tanggung-tanggung. Kan kadang ada tuh ular mati di ladang yak, nah nanti Biring gue bakal ambil itu ular, trus dipakein kayu gitu, dibediriin di jalan raya gitu, bikin orang-orang yang lewat suka panik dan teriakan.
Gak heran.

Keluarga gue emang koplak sih. Apalagi nyokap gue itu, aduh, cerita-ceritanya kocak. Dulu gue rencana mau bikin post soal nyokap buat dedikasi pas dia ulang tahun pas bulan Agustus. Tapi apa daya, laptop gue memilih untuk rusak di bulan itu --" Nanti deh kapan-kapan gue tulis mungkin pas edisi Hari Ibu.

Sekarang gue mau nulis dulu. Ciao!



-xox
@ribkadel

Search This Blog

Total Pageviews